Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, agar mereka berani melawan ketidakadilan
Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu, agar mereka berani menegakkan kebenaran
Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu, agar jiwa-jiwa mereka hidup
Ajarkanlah sastra kepada anak-anakmu,
sebab sastra akan mengubah yang pengecut menjadi pemberani.
- Umar bin Kaththab
Ada kalimat yang sangat menarik perhatian saya ketika saya membaca kutipan-kutipan kalimat dari khalifah yang saya sebutkan di atas, ya, Umar bin Khaththab. Beliau dikenal sebagai seorang pejuang perang yang pemberani tangguh ketika menghadapi musuh. Kenapa harus sastra yang diajarkan kepada anak-anak untuk menjadi pemberani? Kenapa tidak martial arts? Kenapa tidak matematika? Kenapa sastra?
Sebenarnya sudah sejak dulu saya punya sedikit perhatian di cabang ilmu sastra, karena menurut saya, dengan bersastra bisa membuat seseorang menjadi berpikir radikal namun tetap dapat menemukan titik rekonsiliasinya, eits, jangan salah mengartikan apa itu radikal ya. Dosen Strategi dan Pertahanan saya pernah menjelaskan arti radikal sesungguhnya, radikal adalah kata yang berasal dari bahasa Yunani yaitu kata radix yang berarti akar, maka berpikir radikal itu berarti berpikir kembali kepada yang akar. Nah namun kenapa kebanyakan orang selalu menganggap radikal adalah hal yang negatif? Begini, sudah banyak sekali segala hal di dunia ini dipolitisasi, akibatnya kita sudah biasa dengan yang telah terpolitisasi, maka jika ada seseorang yang melakukan suatu tak biasa atau kembali kepada yang akar atau melawan mainstream (kepada yang tak terpolitisasi) maka otomatis kita melihatnya aneh dan akan berpikir itu adalah tindakan/pikiran radikal.
Coba perhatikan saja, sastrawan memang dilahirkan memiliki keberanian yang berlebih dalam penggunaan kata-kata menjadi kalimat sederhana, kuat, dan bermakna, mereka dapat meramu kata-kata yang mengidentitaskan diri mereka adalah seorang yang berani dan mempunyai kemampuan dalam berkata-kata yang tangkas untuk menjunjung tinggi sebuah kebenaran dan keadilan.
Kalau memang faktanya demikian. Maka tesis Khalifah Umar bin Khaththab tepat sekali, tak hanya untuk di zaman beliau saja, namun di zaman kita. Lihatlah Chairil Anwar, WS Rendra, Pramoedya Ananta Toer, Joseph Brodsky, Taufiq Ismail, dan lain lain. Mereka tak pernah bosan melawan kekuasaan dan ketidakadilan. Adakalanya mereka dikucilkan, dipenjara, tapi mereka tak peduli. Lagi pula Buya Hamka pun pernah mengatakan “jika hidup sekedar hidup, babi hutan pun hidup. Jika bekerja sekedar bekerja, monyet di hutan pun bekerja” #IfYouKnowWhatIMean.
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label renungan. Tampilkan semua postingan
Rabu, 10 April 2013
Jumat, 30 November 2012
Aku, Muslimah, dan Sebuah Kontemplasi
Kadang ada waktu saat aku ingin melihat jauh kedalam diri, lalu zoom out
jauh keluar diri. Melihat apa arti aku disini, berdiri di bumi ini. Bercermin bahwa aku
seorang wanita muslim, lalu melihat media betapa bebasnya wanita di luar sana,
jauh dari ajaran agama yang selama ini aku terima dari orangtua dan guruku. Aku
percaya jika semua ini sudah direncankan oleh Allah, kenapa aku sebagai wanita,
kenapa aku terlahir di generasi seperti ini, kenapa aku berada di lingkungan
yang seperti ini pula.
Sejak kecil, orangtuaku selalu mengingatkanku agar tetap pada koridor
Islam, mau apapun yang terjadi di masa depan nanti. Dan sepertinya pesan itu
sudah berakar dalam hatiku. Melihat zaman yang seperti ini aku memang harus
tetap berjalan di koridor Islam. Menjadi pribadi yang tidak mau diintervensi
menuntutku untuk belajar Islam lebih dalam, jauh sampai ke akar.
Melihat dunia yang seperti ini membuatku ingin tau apa dibalik tirai dunia. Simbol piramida yang ntah kenapa itu menjadi
sebuah identitas yang tak baik. Tidak,
aku tidak terlalu mengerti berbicara soal itu, tapi aku adalah wanita muslim
yang hidup di zaman yang seperti ini, aku tidak mau menjadi boneka mereka,
dikendalikan oleh mereka lalu ditertawakan begitu saja.
Sabtu, 20 Oktober 2012
Lilin di Akhir Zaman
Tidak ada niat untuk menulis sih, tapi menulis memang sebuah penawar diri di saat hati sedang melankolis hehe, apalagi malam ini di gelap, sunyi pula, yang ada hanya cahaya lilin yang ku letakkan di meja belajarku karena tadi aku sempat baca buku, jelas saja malam ini gelap dan sepi, rumahku sedang mati listrik sih. Beberapa saat tadi kamarku agak ramai karena adik dan kakakku main ke kamarku, sekalian ngadem juga katanya, karena di kamarku masih ada sisa dingin AC sebelum mati listrik, hanya terdengar mobil-mobil dari jalan tol. Sesaat kakak dan adikku keluar, mereka masuk lagi ke kamarku untuk menyalakan lilin mereka, mereka bolak balik kamarku sampai kurang lebih 2-3 kali karena lilin itu mereka gunakan untuk bermain, maka dari itu setelah lilin itu mati mereka ke kamarku untuk menyalakan lilin mereka lagi. Aku tidak mempermasalahkan itu, hanya saja, bagaimana jika ku matikan juga lilinku? apakah mereka bisa menyalakan lilin mereka? (oke terlepas adanya kompor di lantai bawah itu tidak terhitung ya, soalnya pasti malas untuk menyalakan lilin harus naik-turun tangga, makanya mereka ke kamarku, karena aku masih punya lilin yang menyala)
Tiba-tiba aku berpikir, apakah kita juga seperti itu? apakah kita sebagai manusia yang hidup zaman sekarang seperti itu? lilin yang manakah kita? lilin yang nyala atau yang mati? lilin yang memberi keterangan atau yang tak berguna? lilin yang hanya bisa bergantung dengan lilin yang nyala atau lilin yang memberi apinya kepada lilin lain sehingga bisa menerangi sekelilingnya? apakah kita lilin yang dicari ketika semua lilin sudah mati? apakah kita lilin yang menenangkan ketika semua orang panik dalam gelap? apakah kita lilin penerang jalan ketika orang-orang buta dalam kegelapan? apakah kita lilin yang bisa menjaga apinya agar tetap nyala? apakah kita lilin yang disayangkan jika sudah mati dan mereka sadar betapa pentingnya kita...
Ada beberapa nilai yang bisa ku ambil dari kejadian bolak-baliknya kakak dan adikku . Anggaplah batang lilin itu fisik kita dan api adalah 'isi' kita.
Sabtu, 13 Oktober 2012
Pesan Untuk Hati
Wahai hati...
Janganlah kau menjadi sesuatu yang keras, jangan pula menjadi suatu yang lembek, namun jadilah sesuatu yang kokoh, yang selalu menjaga diri dan gigih berjalan di jembatan bernama kehidupan.
Wahai hati...
Janganlah kau sempit, kesempitan dirimu membuat dirimu tidak bisa menerima banyak hal dalam kehidupan dan mengakibatkan kesesakan selama hidupmu, itu sangat tidak nyaman. Kau harus luas, lapang, besar, agar bisa menerima banyak hal dalam kehidupan, ntah itu hal yang pahit atau manis terimalah dengan lapang.
Wahai hati...
Jangan pernah kau membuka pintumu kepada mereka, sekalipun mereka mengetuk. Karena percayalah, jika seseorang itu memang pantas berada di dalam mu, dia tak perlu mengetuk pintumu, dan kau tak perlu repot membuka pintu, karena dia sudah punya kunci pintumu untuk mengambil tulang rusuknya yang hilang.
Wahai hati...
Jangan pernah lelah untuk melakukan sesuatu yang tulus tanpa agenda, walaupun ketulusanmu kadang menjadi prasangka mereka, tapi sungguh aku suka melakukan ketulusan itu.
Janganlah kau menjadi sesuatu yang keras, jangan pula menjadi suatu yang lembek, namun jadilah sesuatu yang kokoh, yang selalu menjaga diri dan gigih berjalan di jembatan bernama kehidupan.
Wahai hati...
Janganlah kau sempit, kesempitan dirimu membuat dirimu tidak bisa menerima banyak hal dalam kehidupan dan mengakibatkan kesesakan selama hidupmu, itu sangat tidak nyaman. Kau harus luas, lapang, besar, agar bisa menerima banyak hal dalam kehidupan, ntah itu hal yang pahit atau manis terimalah dengan lapang.
Wahai hati...
Jangan pernah kau membuka pintumu kepada mereka, sekalipun mereka mengetuk. Karena percayalah, jika seseorang itu memang pantas berada di dalam mu, dia tak perlu mengetuk pintumu, dan kau tak perlu repot membuka pintu, karena dia sudah punya kunci pintumu untuk mengambil tulang rusuknya yang hilang.
Wahai hati...
Jangan pernah lelah untuk melakukan sesuatu yang tulus tanpa agenda, walaupun ketulusanmu kadang menjadi prasangka mereka, tapi sungguh aku suka melakukan ketulusan itu.
Langganan:
Postingan (Atom)