Sejak kecil, orangtuaku selalu mengingatkanku agar tetap pada koridor
Islam, mau apapun yang terjadi di masa depan nanti. Dan sepertinya pesan itu
sudah berakar dalam hatiku. Melihat zaman yang seperti ini aku memang harus
tetap berjalan di koridor Islam. Menjadi pribadi yang tidak mau diintervensi
menuntutku untuk belajar Islam lebih dalam, jauh sampai ke akar.
Melihat dunia yang seperti ini membuatku ingin tau apa dibalik tirai dunia. Simbol piramida yang ntah kenapa itu menjadi
sebuah identitas yang tak baik. Tidak,
aku tidak terlalu mengerti berbicara soal itu, tapi aku adalah wanita muslim
yang hidup di zaman yang seperti ini, aku tidak mau menjadi boneka mereka,
dikendalikan oleh mereka lalu ditertawakan begitu saja.
Ntahlah, pikiranku masih terlalu dangkal untuk memikirkan hal itu. Aku
tidak tau apakah memang Israel dan Iran punya rencana underground sedangkan
yang diberitakan media itu hanya sebuah skenario pengecoh penduduk dunia? Atau drama yang sedang
terjadi di timur tengah sekarang dengan membawa Islam Suni dan Syiah? Ah, aku
merasa begitu bodoh dengan hal ini.
Memang tidak ada yang innocent di dunia ini. Ketika setiap negara melakukan
kerjasama bilateral, duduk rapi di ruang konfrensi lalu berdiplomasi, saling
berdebat negosiasi untuk memenuhi interest negara, namun dibalik itu mereka
tetap punya strategi untuk menjadi penguasa. Hanya negara yang tunduk kepada
negara hegemony lah yang akan bertahan. Semua negara saling berkompetisi untuk
memenuhi keinginan negaranya sendiri, tidak melihat ada saudara kita dalam negara
tersebut, ya saudara kita, karena bukankah semua umat muslim itu sudara kita?
Terkadang, aku sebagai wanita muslim dan pelajar Ilmu Hubungan Internasional
tidak bisa membuat hati dan pikiranku jalan beriringan. Hatiku selalu
bermanuver untuk selalu ingin berteman dengan setiap negara, namun ada saatnya
pula aku terlalu berpikir realis untuk tetap berkompetisi. Seperti contoh
Indonesia-Malaysia, haruskah Indonesia-Malaysia menjadi benar-benar musuh
bebuyutan? Apalagi Malaysia termasuk negara FPDA (Five Power Defence Arrangements) yang berarti punya hubungan baik dengan UK, New Zealand, Singapore, dan Australia yang secara tidka langsung ada pula hubungannya dengan negara-negara NATO. Namun mengingat mayoritas penduduk
Malaysia muslim, apakah kita tetap saling berkompetisi dan menjatuhkan? Apalagi kalau kita menganalisis perang di masa depan, dengan melihat ketegangan dan konflik-konflik di kawasan Asia Pasifik, rasanya situasi huru hara semakin dekat, perang masa depan semakin dekat, karena masa depan itu adalah sekarang.
Kembali, aku memejamkan mata membayangkan dunia yang begitu liar, lalu aku
bercermin lagi pada diriku bahwa aku seorang wanita yang belum melakukan apa-apa, bisa apa? Ah... aku adalah seorang
muslimah! Selalu aku tegaskan pada diriku bahwa aku seorang muslimah yang akan
menanam bibit untuk generasi yang akan datang. Ya, aku akan menjadi seorang
ibu. Aku akan melahirkan manusia-manusia baru, yang akanku didik
menjadi manusia hebat, menjadi manusia yang berfondasi kokoh ajaran Islam
di generasinya nanti.
Namun terbesit di pikiranku apakah aku bisa mendidik? Mampukah aku? ..... .. Selalu aku tegaskan pada diriku aku pasti bisa! Aku pasti bisa mendidik anak-anakku menjadi manusia hebat seperti Shalahudin Al-Ayubi yang dapat merebut kota suci Yerusalem dari Pasukan Salib, atau seperti Ali bin Abi Thalib yang cerdas dalam berstrategi perangnya. Semua itu bisa ku dapat karena Allah telah menyediakan sejarah, dengan sejarah itulah terdapat kisah muslimah-muslimah hebat yang bisa ku teladani.
Semoga aku menjadi wanita yang dipercaya Allah yang bisa mendidik
anak-anakku dan (insyaAllah kalau punya) anak asuhku menjadi sosok manusia yang
bermanfaat di zamannya kelak. Aamiin.
”Didiklah anakmu sesuai dengan
zamannya"
(Ali bin Abi Thalib r.a.)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar