Jumat, 30 November 2012

Aku, Muslimah, dan Sebuah Kontemplasi

Kadang ada waktu saat aku ingin melihat jauh kedalam diri, lalu zoom out jauh keluar diri. Melihat apa arti aku disini, berdiri di bumi ini. Bercermin bahwa aku seorang wanita muslim, lalu melihat media betapa bebasnya wanita di luar sana, jauh dari ajaran agama yang selama ini aku terima dari orangtua dan guruku. Aku percaya jika semua ini sudah direncankan oleh Allah, kenapa aku sebagai wanita, kenapa aku terlahir di generasi seperti ini, kenapa aku berada di lingkungan yang seperti ini pula.

Sejak kecil, orangtuaku selalu mengingatkanku agar tetap pada koridor Islam, mau apapun yang terjadi di masa depan nanti. Dan sepertinya pesan itu sudah berakar dalam hatiku. Melihat zaman yang seperti ini aku memang harus tetap berjalan di koridor Islam. Menjadi pribadi yang tidak mau diintervensi menuntutku untuk belajar Islam lebih dalam, jauh sampai ke akar.

Melihat dunia yang seperti ini membuatku ingin tau apa dibalik tirai dunia. Simbol piramida yang ntah kenapa itu menjadi sebuah  identitas yang tak baik. Tidak, aku tidak terlalu mengerti berbicara soal itu, tapi aku adalah wanita muslim yang hidup di zaman yang seperti ini, aku tidak mau menjadi boneka mereka, dikendalikan oleh mereka lalu ditertawakan begitu saja.


Ntahlah, pikiranku masih terlalu dangkal untuk memikirkan hal itu. Aku tidak tau apakah memang Israel dan Iran punya rencana underground sedangkan yang diberitakan media itu hanya sebuah skenario pengecoh penduduk dunia? Atau drama yang sedang terjadi di timur tengah sekarang dengan membawa Islam Suni dan Syiah? Ah, aku merasa begitu bodoh dengan hal ini.

Memang tidak ada yang innocent di dunia ini. Ketika setiap negara melakukan kerjasama bilateral, duduk rapi di ruang konfrensi lalu berdiplomasi, saling berdebat negosiasi untuk memenuhi interest negara, namun dibalik itu mereka tetap punya strategi untuk menjadi penguasa. Hanya negara yang tunduk kepada negara hegemony lah yang akan bertahan. Semua negara saling berkompetisi untuk memenuhi keinginan negaranya sendiri, tidak melihat ada saudara kita dalam negara tersebut, ya saudara kita, karena bukankah semua umat muslim itu sudara kita?

Terkadang, aku sebagai wanita muslim dan pelajar Ilmu Hubungan Internasional tidak bisa membuat hati dan pikiranku jalan beriringan. Hatiku selalu bermanuver untuk selalu ingin berteman dengan setiap negara, namun ada saatnya pula aku terlalu berpikir realis untuk tetap berkompetisi. Seperti contoh Indonesia-Malaysia, haruskah Indonesia-Malaysia menjadi benar-benar musuh bebuyutan? Apalagi Malaysia termasuk negara FPDA (Five Power Defence Arrangements) yang berarti punya hubungan baik dengan UK, New Zealand, Singapore, dan Australia yang secara tidka langsung ada pula hubungannya dengan negara-negara NATO.  Namun mengingat mayoritas penduduk Malaysia muslim, apakah kita tetap saling berkompetisi dan menjatuhkan? Apalagi kalau kita menganalisis perang di masa depan, dengan melihat ketegangan dan konflik-konflik di kawasan Asia Pasifik, rasanya situasi huru hara semakin dekat, perang masa depan semakin dekat, karena masa depan itu adalah sekarang.

Kembali, aku memejamkan mata membayangkan dunia yang begitu liar, lalu aku bercermin lagi pada diriku bahwa aku seorang wanita yang belum melakukan apa-apa, bisa apa? Ah... aku adalah seorang muslimah! Selalu aku tegaskan pada diriku bahwa aku seorang muslimah yang akan menanam bibit untuk generasi yang akan datang. Ya, aku akan menjadi seorang ibu. Aku akan melahirkan manusia-manusia baru, yang akanku didik menjadi manusia hebat, menjadi manusia yang berfondasi kokoh ajaran Islam di generasinya nanti.

Namun terbesit di pikiranku apakah aku bisa mendidik? Mampukah aku? ..... .. Selalu aku tegaskan pada diriku aku pasti bisa! Aku pasti bisa mendidik anak-anakku menjadi manusia hebat seperti Shalahudin Al-Ayubi yang dapat merebut kota suci Yerusalem dari Pasukan Salib, atau seperti Ali bin Abi Thalib yang cerdas dalam berstrategi perangnya. Semua itu bisa ku dapat karena Allah telah menyediakan sejarah, dengan sejarah itulah terdapat kisah muslimah-muslimah hebat yang bisa ku teladani.

Semoga aku menjadi wanita yang dipercaya Allah yang bisa mendidik anak-anakku dan (insyaAllah kalau punya) anak asuhku menjadi sosok manusia yang bermanfaat di zamannya kelak. Aamiin.




”Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya"
(Ali bin Abi Thalib r.a.)




Tidak ada komentar: