Tiba-tiba aku berpikir, apakah kita juga seperti itu? apakah kita sebagai manusia yang hidup zaman sekarang seperti itu? lilin yang manakah kita? lilin yang nyala atau yang mati? lilin yang memberi keterangan atau yang tak berguna? lilin yang hanya bisa bergantung dengan lilin yang nyala atau lilin yang memberi apinya kepada lilin lain sehingga bisa menerangi sekelilingnya? apakah kita lilin yang dicari ketika semua lilin sudah mati? apakah kita lilin yang menenangkan ketika semua orang panik dalam gelap? apakah kita lilin penerang jalan ketika orang-orang buta dalam kegelapan? apakah kita lilin yang bisa menjaga apinya agar tetap nyala? apakah kita lilin yang disayangkan jika sudah mati dan mereka sadar betapa pentingnya kita...
Ada beberapa nilai yang bisa ku ambil dari kejadian bolak-baliknya kakak dan adikku . Anggaplah batang lilin itu fisik kita dan api adalah 'isi' kita.
1. Ketika api mati, pastinya kita akan mencari lilin lain untuk menyalakan kembali api di lilin kita, hal ini akan membuat diri kita terlalu bergantung kepada lilin itu, tapi ketika lilin itu telah meleleh habis, kita tak dapat lagi sumber api, maka lilin ini menjadi tak berguna dalam kegelapan. Maka dari itu cobalah untuk menjaga api, menjaga 'isi' kita seperti karakter, prinsip, dan nilai lainnya yang mengidentitaskan personality kita.
2. Tetaplah bersinar. Abaikan lilin-lilin lain yang sedang bermain sehingga membuat apinya mati. Jagalah api agar tetap menyala. Toh mereka lilin-lilin yang tidak bisa menjaga apinya akan tetap membutuhkan lilin yang menyala, namun lilin yang menyala tetap ingin berbagi api dengan lilin lainnya untuk menyinari di kegelapan. Mulia sekali :')
3. Satu lilin yang menyala, bisa menyinari suatu ruangan dengan berbagi api dengan lilin lainnya, berbagi cahaya, berbagi ketenangan. Bayangkan jika tak ada lilin yang menyala, bagaimana bisa suatu ruangan akan terang? nah itu kah kita seseorang yang berbagi ketenangan, cahaya, kebaikan kepada orang lain?
Apakah kita seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain menjadi baik? ya semoga saja itu kita hehe aamiin.
Maka menurutku, tetaplah kita pada jalur positif, berbagi hal positif, walaupun dunia ini begitu keras, banyak kepalsuan, kecurangan, dan hal negatif lainnya. Menjadi manusia yang berbagi kebaikan. Kita yang mengindahkan orang-orang di sekeliling kita bukan orang2 yang mempengaruhi kita. Namun menjadi baik bukan berarti lembek, namun tetap kokoh dan cerdas, mengingat begitu jahatnya dunia ini.
Malam ini aku dapat motivasi dari lilin, aku akan tetap menjaga 'api' ku, api yang ku terima dari orangtuaku.Walaupun aku tau, menjaga 'api' di lingkungan dan zaman yang perlahan meniup 'api' ku, tapi aku harus bertahan dengan basis agamaku.
Terima kasih lilin. :)
---
Sekedar informasi, sebenarnya tulisan ini sudah aku tulis lama sekali, sudah menjadi draft sejak 23 Februari 2012. Karena aku saat itu sedang rada-sedikit-agak-lumayan malas untuk menyelesaikan tulisan ini akhirnya terbengkalai sampai sekarang, tepatnya sih lupa hehe.
Oiya tadinya aku fotoin lilin di meja belajarku, tapi fotonya udah ga ada, karena aku udah ganti HP.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar